DAERAH DAN PENDUDUK LAMPUNG TENGAH A. DAERAH Kabupaten Lampung Tengah merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Lampung. Sejak diundangkannya Undang-undang Nomor 12 tahun 1999, Kabupaten Lampung Tengah mengalami pemekaran menjadi dua kabupaten dan satu kota yaitu Kabupaten Lampung Tengah sendiri, Kabupaten Lampung Timur dan Kota Metro. Seiring otonomi daerah serta pemekaran wilayah, ibukota Kabupaten Lampung Tengah yang semula berada di Kota Metro, pada tanggal 1 Juli 1999 dipindahkan ke Kota Gunung Sugih. Kegiatan pemerintahan dengan skala kabupaten dipusatkan di Kota Gunung Sugih sedangkan kegiatan perdagangan dan jasa dipusatkan di Kota Bandar Jaya. Letak Kabupaten Lampung Tengah cukup strategis dalam konteks pengembangan wilayah. Sebab selain dilintasi jalur lintas regional, baik yang menghubungkan antar provinsi maupun antar kabupaten/kota di Provinsi Lampung, juga persimpangan antara jalur Sumatera Selatan via Menggala dan jalur Sumatera Selatan serta Bengkulu via Kotabumi. Bagian selatan jalur menuju ke Kota Bandar Lampung, bagian timur menuju jalan ASEAN, Kabupaten Lampung Timur dan Kotamadya Metro. Sementara bagian barat jalur menuju Kabupaten Lampung Utara dan Kabupaten Tanggamus serta jalur lintas kereta api jurusan Bandar Lampung-Kertapati, Palembang. Kabupaten Lampung Tengah memiliki sarana prasarana jalan yang strategis seperti adanya jalan trans Sumatera, jalan regional yang menghubungkannya dengan Kabupaten Lampung Utara dan Kabupaten Lampung Selatan, jalan lintasan rel kereta api serta jaringan jalan lokal yang menghubungkan antar kecamatan dan kampung dengan ibukota kabupaten. Ruas-ruas jalan ini merupakan jaringan transportasi yang menghubungkan dari satu tempat ke tempat lainnya, baik di dalam kabupaten sendiri maupun luar daerah. 1. Geografi Kabupaten Lampung Tengah yang beribukota kabupaten Kota Gunung Sugih ini, meliputi areal daratan seluas 4.789,82 km2, terletak pada bagian tengah Provinsi Lampung. Kabupaten Lampung Tengah berbatasan dengan: a. Kota Metro dan Kabupaten Lampung Timur disebelah timur. b. Kabupaten Tulang Bawang dan Lampung Utara disebelah utara. c. Kabupaten Lampung Selatan disebelah selatan. d. Kabupaten Tanggamus dan Kabupaten Lampung Barat disebelah barat. Secara geografis, daerah Kabupaten Lampung Tengah berada pada kedudukan: – Timur-Barat antara : – 104 derajat 35’ Bujur Timur s/d 105 derajat 50’ Bujur Timur. – Utara-Selatan : – 4 derajat 30’ Lintang Selatan s/d 4 derajat 15’ Lintang Selatan. 2. Topografi Daerah Lampung Tengah dapat di bagi ke dalam 5 (lima) unit Topografi yakni: a. Daerah topografi berbukit sampai bergunung b. Daerah topografi berombak sampai bergelombang c. Daerah dataran alluvial d. Daerah rawa-rawa pasang surut e. Daerah sungai a. Daerah Topografi Berbukit sampai Bergunung Kabupaten Lampung Tengah memiliki topografi berbukit dan bergunung. Daerah ini terdapat di Kecamatan Padang Ratu dengan ketinggian rata-rata 1.600 m dari permukaan laut. Di Lampung Tengah juga terdapat Anak Gunung yang berada di Kecamatan Selagai Lingga dan Gunung Tangkitangan di Kecamatan Pubian. Anak Mountain (Anak Gunung) yang ada di Selagai Lingga memiliki ketinggian 1.614 m dan Tangkitangan Mountain (Gunung Tangkitangan) di Pubian berketinggian 1.613 m dari permukaan laut. b. Daerah Topografi Berombak Sampai Bergelombang Adapun ciri-ciri khusus daerah ini adalah terdapatnya bukit-bukit rendah yang dikelilingi dataran-dataran sempit, dengan kemiringan antara 8% sampai 15% dan ketinggian antara 300 m sampai 500 m dari permukaan air laut. Jenis tanaman perkebunan di daerah itu biasanya ditanami kopi, cengkeh, lada serta tanaman pangan seperti padi, jagung, kacang-kacangan dan sayur-sayuran. c. Daerah Dataran Alluvial Dataran ini sangat luas, meliputi hampir keseluruhan wilayah Lampung Tengah sampai mendekati pantai timur, juga merupakan bagian hilir dari sungai-sungai besar seperti Way Seputih dan Way Pengubuan. Ketinggian daerah itu berkisar antara 25 meter sampai dengan 75 meter dari permukaan laut. Sementara tingkat kemiringan daerahnya berada pada titik 0% sampai 3%. d. Daerah Rawa-rawa Pasang Surut Daerah ini terletak di sepanjang pantai timur Kabupaten Lampung Tengah. Menggenangnya air menurut pasang surut air laut. Daerah itu mempunyai ketinggian antara 0,5 sampai 1 meter diatas permukaan laut (pl). e. Daerah Sungai Daerah Lampung Tengah terdapat 2 (dua) dari 5 (lima) daerah aliran sungai di Provinsi Lampung, yaitu Sungai/Way Seputih dan Sungai/Way Sekampung. Sungai/Way Seputih Sungai/Way Sekampung Luas 7.550 km2 Panjang keseluruhan 965 km2 Jumlah cabang 14 buah Densiti pola aliran 0,13 Frekuensi pola aliran 0,0019 Luas 5.675 km2 Panjang keseluruhan 623 km2 Jumlah cabang 12 buah Densiti pola aliran 0,11 Frekuensi pola aliran 0,0021 Selain Way Seputih dan Way Sekampung, Kabupaten Lampung Tengah juga dialiri oleh beberapa sungai yang lain, seperti: Way Waya, Way Ketaya, Kali Pasir, Way Besi, Kali Macas, Way Tipo, Way Pengakuan, Way Tatayan, Way Pubian, Kali Punggur, Way Raman, Way Bening, Way Keliwang, Way Buring, Way Pengubuan dan Way Pengandungan. Sementara untuk proses pembentukan tanah di Lampung Tengah, pada prinsipnya sangat ditentukan oleh faktor bahan induk dan iklim. Bahan induk serta iklim yang ada itu cukup berpengaruh terhadap proses pembentukannya. Sedangkan jenis tanahnya berkaitan erat dengan keadaan bentuk lahan. Pada beberapa belahan wilayah, jenis tanah memiliki perbedaan. Hal itu dikarenakan faktor bahan induk dan iklim suatu daerah yang pada letak tertentu berlainan. Adapun jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Lampung Tengah relatif dominan terhadap jenis tanah asosiasi Possolik Kekuningan serta Podsolik Merah Kuning. Berdasarkan karakteristik topografi, wilayah tanah usaha di Lampung Tengah dapat dikelompokkan menjadi 5 (lima) golongan. Kelompok ini dibedakan berdasarkan tanah usaha, letak maupun kegunaannya. a. Tanah Usaha Khusus I Tanah usaha ini terletak pada ketinggian 0 (nol) sampai dengan 7 (tujuh) meter dari permukaan laut (pl) yang tersebar di daerah-daerah pertemuan air. Sebagian besar daerah itu secara periodik lebih banyak tergenang air daripada dataran lain. Karena daerahnya sendiri berada didataran rendah dan dekat dengan sumber perairan laut. Tempat tersebut terus menerus digenangi air atau dapat pula tergantung pada besar kecilnya volume air yang tertampung di tempat dimana air tersebut berada. b. Tanah Usaha Utama IA dan B Tanah usaha utama IA dan IB adalah lahan yang terletak pada ketinggian 7 (tujuh) sampai dengan 40 (empat puluh) meter dari permukaan laut (pl). Biasanya tanah usaha utama ini banyak dipergunakan untuk bendungan-bendungan besar dan pada ketinggian ini sebagian besar dipergunakan untuk usaha pertanian sawah maupun lahan pertanian lainnya. c. Tanah Usaha Utama IC Tanah usaha utama IC berada pada ketinggian 50 (lima puluh) sampai dengan 100 (seratus) meter dari permukaan laut yang merupakan bagian dari daerah persawahan yang relatif baik. Namun biasanya daerah seperti ini dapat diairi relatif kurang pada saat tertentu. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh iklim dan cuaca yang pada bulan-bulan tertentu bisa berubah sesuai dengan kondisi alam serta perubahan musim. d. Tanah Usaha Utama ID Tanah usaha utama ID merupakan lahan yang terletak pada ketinggian 100 (seratus) sampai dengan 500 (lima ratus) meter dari permukaan laut, dengan kondisi permukaan yang sudah agak bergelombang. Kondisi itu bisa saja disebabkan letak geografis tanah. e. Tanah Usaha Utama II Tanah usaha utama II berada pada ketinggian 500 (lima ratus) sampai dengan 1000 (seribu) meter dari permukaan laut yang merupakan daerah peralihan antara daerah beriklim panas dengan beriklim sedang. Dalam penguasaan hak atas tanah, status tanah adalah ketetapan tentang kepastian hukum atas tanah yang dikuasai. Di Kabupaten Lampung Tengah, hal tersebut dapat dibedakan menjadi beberapa hak seperti hak milik adat, hak guna usaha, hak pakai, hak pengolahan, tanah adat, tanah negara yang diperuntukkan dan tanah kehutanan. 3. Geologi Pada ketinggian ini terdapat aliran lahar asam batuan gunung berapi yaitu Tuffa Lampung yang hampir meliputi seluruh daerah Lampung Tengah dengan tanah Latosol dan Podsolik. Sementara pada ketinggian 50 (lima puluh) sampai dengan 500 (lima ratus) meter terdapat bahan Tuffa Lampung yang makin ke barat semakin tinggi letaknya, terdiri dari endapan gunung berapi (Plistosen). Di bagian utara wilayah itu terdapat formasi Lampung anggota bawah dari formasi Palembang, Provinsi Sumatera Selatan. Sementara dari data diketahui bahwa untuk di wilayah Kecamatan Kalirejo dan Kecamatan Bangunrejo terdapat batuan terobosan, granit Seputih dan batuan metamorf. Di daerah tersebut bila melihat kenyataan yang ada mempunyai potensi sumber bahan galian berupa batu gamping. Data tentang endapan mineral di daerah Lampung Tengah, dapat diiventarisir dengan adanya berbagai bahan-bahan tambang (endapan mineral) yang diantaranya: endapan batubara muda terdapat pada lapisan sedimen dan formasi endosit tua, yakni di Kecamatan Padang Ratu. Endapan mineral ini merupakan potensi bahan tambang bagi Lampung Tengah. 4. Klimatologi Pada umumnya klimatologi Lampung Tengah adalah sama dengan klimatologi daerah Provinsi Lampung lainnya, yaitu: Arus Angin, terletak dibawah garis khatulistiwa 5 derajat lintang selatan beriklim tropis-humid dengan angin laut yang bertiup dari Samudera Indonesia dengan arah angin setiap tahunnya, Yaitu: (1) Pada bulan November-Maret angin bertiup dari arah barat dan barat laut. (2) Pada bulan Juli-Agustus angin bertiup dari arah timur dan tenggara. Kecepatan angin rata-rata 5,83 km/jam. Temperatur, pada daerah dataran dengan ketinggian 30-60 m temperatur maksimum yang sangat jarang dialami adalah 33 C dan temperatur minimum 22 C. Kelembaban udara sekitar 80%-88% dan ternyata akan lebih tinggi. 5. Kehutanan Di lihat dari potensi yang ada, Kabupaten Lampung Tengah merupakan suatu daerah di Provinsi Lampung yang mempunyai wilayah hutan cukup luas. Adapun luas wilayah hutan Lampung Tengah berdasarkan Tataguna Hutan Kesepakatan (TGHK), sampai dengan tahun 1998 tercatat mencapai 77.071,00 hektar, terdiri dari: Hutan lindung seluas 31.815,00 hektar, Hutan suaka marga satwa seluas 4.200,00 hektar, Hutan produksi tetap seluas 12.000,00 hektar dan Hutan produksi yang dapat dikonversi seluas 29.056,00 hektar. Hutan-hutan tersebut berada di sejumlah daerah dalam wilayah Kabupaten Lampung Tengah sebagai potensi alam yang dapat dikembangkan bagi sumber pendapatan daerah. Tabel 1. Letak, Luas dan Fungsi Hutan di Kabupaten Lampung Tengah. No. Letak Regis-ter Luas Fungsi 1. Kota Agung Utara 39 102.110 Hutan Lindung seluas 17.647 2. Way Waya 22 9.895 Hutan Lindung seluas 5.118 3. Way Rumbia 8 5.666,72 Hutan Lindung seluas 5.666,72 4. Way Terusan 47 12.500 Hutan Produksi seluas 12.500 *) Data terakhir tahun 2003, pen.dok 6. Pariwisata Taman Budaya Kabupaten Lampung Tengah Di sektor pariwisata, Kabupaten Lampung Tengah juga memiliki beragam objek wisata dan daya tarik wisata yang tersebar di sejumlah wilayah daerah. Kondisi geografis yang menguntungkan telah pula menjadikan alamnya menyimpan berbagai macam panorama. Tempat-tempat ini merupakan objek pariwisata yang dimiliki Lampung Tengah dan mempunyai daya tarik tersendiri. Objek wisata tersebut, berupa: objek wisata alam, objek wisata budaya, objek wisata agro dan objek wisata minat khusus. Bila melihat kondisi alam yang ada, industri pariwisata di kabupaten ini memiliki prospek yang cukup menjanjikan. Di Kabupaten Lampung Tengah setidaknya menyimpan beragam objek wisata yang berada di sejumlah tempat. Sektor pariwisata itu diharapkan mampu menjadi sumber pendapatan asli daerah dengan keragaman daya tarik yang dimiliki. Adapun potensi objek wisata yang diunggulkan Lampung Tengah, diantaranya: 1. Objek Wisata Alam Air Terjun Curup Tujuh. Objek wisata alam yang berlokasi di Kampung Marga Jaya Kecamatan Padang Ratu ini memiliki nuansa tersendiri. Air terjun tersebut mempunyai tujuh tingkatan air terjun diantara cela bebatuan yang terletak ditengah areal hutan dengan kondisi alam yang masih alami. Selain untuk berekreasi, dialiran air terjun, pengunjung dapat mandi dan menikmati sejuknya alam pegunungan yang terdapat di sini. Jarak tempuh dari Gunung Sugih menuju Air Terjun Curup Tujuh ini adalah 32 km. Danau Telogo Rejo. Danau yang berlokasi di Kampung Sendang Baru Kecamatan Sendang Agung ini merupakan objek wisata tirta yang terletak di wilayah perbukitan. Kondisi alamnya yang masih alami memungkinkan pengunjung untuk berekreasi ke tempat itu. Kegiatan yang bisa dilakukan di danau diantaranya dayung dan lintas alam. Cocok pula untuk rekreasi keluarga. Suasana danau yang tenang dan asri setidaknya memungkinkan pengunjung berkunjung ke tempat tersebut. Danau Telaga Rejo ini terletak sejauh 71 km dari Gunung Sugih. Danau Bekri. Danau yang berlokasi di Kecamatan Bekri ini, merupakan danau alam yang terbentuk dari dua buah danau kecil dan berada diantara perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Nusantara VII (PTPN VII). Di tengah danau terdapat gundukan tanah yang ditumbuhi pepohonan. Untuk mencapainya ada jembatan sebagai penghubung dan dipulaunya terdapat tempat bersantai/peristirahatan. Dari pusat ibukota kabupaten, untuk menjangkau tempat tersebut dapat melalui Kampung Wates Kecamatan Bumiratu Nuban atau dari Gotongroyong Kecamatan Gunung Sugih. Jarak tempuh dari Gunung Sugih menuju Danau Bekri ini adalah sejauh 24 km. Taman Rekreasi Tirta Gangga. Objek wisata yang berlokasi di Kampung Swastika Buana (SB) 13 Kecamatan Seputih Banyak ini merupakan wisata tirta yang tidak kalah menariknya. Objek wisata ini berjarak 36 km dari Gunung Sugih. Di buat tahun 1975 yang fungsi utamanya adalah sarana irigasi bagi beberapa daerah disekitarnya, seperti SB 12, SB 13 dan Rumbia. Danau yang memiliki luas sekitar 200 hektar ini terletak di tengah pemukiman warga keturunan Bali. Di objek wisata tersebut dapat di lihat Pura dan Patung Hanoman yang berada di tengah danau. Pada waktu tertentu, di tempat itu sering diadakan upacara ritual dengan tata cara adat istiadat dan tarian tradisional Bali. Gua Maria. Objek wisata ini terletak di Kecamatan Seputih Mataram (24 km dari Gunung Sugih). Gua Maria identik dengan ritus umat Kristiani. Dari pusat ibukota Kabupaten Lampung Tengah, untuk menjangkau tempat ini, pengunjung dapat melalui Kelurahan Bandarjaya Timur (perempatan Kota Bandarjaya arah ke Merapi) Kecamatan Terbanggi Besar. 2. Objek Wisata Budaya Rumah Adat di Kecamatan Gunung Sugih. Di Kecamatan ini akan dijumpai rumah adat milik masyarakat setempat yang memiliki ciri khas tersendiri. Gunung Sugih yang merupakan salah satu ‘Kampung Tua’ di Kabupaten Lampung Tengah tersebut dapat pula dijadikan objek wisata Budaya. Sejumlah nuwo milik masyarakat yang masih bercirikan kultur Lampung dengan rumah-rumah panggungnya yang khas dapat ditemui di tempat ini. Panggung Kesenian Bali di Kecamatan Seputih Raman. Ditempat ini akan dilihat panggung kesenian yang bercirikan khas masyarakat Bali yang ada di Kabupaten Lampung Tengah. Di panggung itu terlihat Ornamen Bali yang menonjol. Jarak tempuh dari Gunung Sugih menuju objek wisata ini adalah 22 km. 3. Objek Wisata Agro Perkebunan dan Pengalengan Nenas PT. Great Giant Pineapple (PT. GGP). PT. GGP berlokasi di Kecamatan Terbanggi Besar. Great Giant Pineapple didirikan sekitar tahun 1984. Ditempat ini akan dijumpai ribuan hektar perkebunan nenas dan pabrik pengolahan nenas kaleng kualitas eksport dengan menyerap ribuan karyawan-karyawati yang dipekerjakan di sini. Objek wisata ini dapat ditempuh dalam jarak 6 km dari Gunung Sugih. Perkebunan Tebu dan Pabrik PT. Gunung Madu Plantations (PT. GMP). Perusahaan besar penghasil gula ini berlokasi di Gunung Batin, 28 km dari Gunung Sugih. Di sini akan ditemui ribuan hektar perkebunan tebu, pabrik pengolahan serta menyerap ribuan karyawan-karyawati, baik dari dalam maupun luar daerah. PT. GMP didirikan dalam tahun 1975 dan memilih Provinsi Lampung bagi pengembangan industri gula. Gunung Madu Plantations merupakan perusahaan swasta asing dan swasta nasional berstatus PMA yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Kuok Investment (Hongkong) Ltd. Di perusahaan ini tumbuh keahlian di bidang pertebuan dan pergulaan lahan kering yang sudah teruji, berupa para profesional dan manajer di bidang pergulaan. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan oleh kalangan yang lebih luas demi kemajuan industri gula nasional. Potensi GMP itupun sangat besar peranannya saat dilibatkan dalam mengangkat produksi PT. Gula Putih Mataram tahun 1991 dan membuka PT. Sweet Indo Lampung, PT. Indo Lampung Perkasa dan PT. Pemuka Sakti Manis Indah. Perkebunan Kelapa Sawit di Kecamatan Bekri, Kecamatan Terbanggi Besar dan Kecamatan Padang Ratu. Di tempat ini akan dijumpai perkebunan kepala sawit yang menghijau. Perkebunan kelapa sawit di sini telah lama di kelola dan menghasilkan minyak sawit dalam jumlah yang tidak sedikit. 4. Objek Wisata Minat Khusus Pemancingan Ikan di sepanjang Way Seputih seperti di Kecamatan Rumbia dan Seputih Surabaya. Way Seputih yang memanjang itu telah pula menghadirkan panorama alam dan sungai dengan berbagai jenis ikan yang hidup di dalam diperairannya. Way Seputih memiliki luas 7.550 km2 dan memiliki kepanjangan 965 km2. Sedangkan jumlah cabang-cabang sungai sebanyak 14 anak sungai. Meliputi anak-anak sungai yang berada di kecamatan yang dilaluinya. B. PENDUDUK Penduduk Lampung Tengah terdiri dari 2 (dua) unsur yaitu masyarakat pribumi dan masyarakat pendatang. Masyarakat pribumi; warga penduduk asli yang sudah lama menetap bahkan turun temurun mendiami tempat ini. Sedangkan masyarakat pendatang adalah penduduk pendatang yang tinggal dan menetap di sini. Penduduk pendatang terbagi lagi menjadi 2 (dua) unsur yakni pendatang lokal/suku Lampung dari luar Lampung Tengah dan pendatang dari luar kabupaten (bukan asli suku Lampung) dan luar provinsi. Provinsi Lampung yang telah terlanjur dinobatkan dengan sebutan ‘Indonesia Mini’ karena keanekaragaman suku-suku bangsa bermukim di tempat ini (karena adanya transmigran dan pendatang lainnya), juga tak terkecuali dengan Lampung Tengah. Kabupaten yang dimekarkan tahun 1999 itu sendiri, selain didiami penduduk pribumi banyak pula masyarakat pendatang yang berdiam serta menetap. Berbagai suku bangsa seperti Jawa, Bali, Sunda, Palembang, Padang, Batak dan sebagainya mendiami belahan daerah-daerah Kabupaten Lampung Tengah. Bila melihat perkembangannya, pembauran masyarakat yang ada di Lampung Tengah secara garis besar dikarenakan dulu adanya transmigrasi sejumlah kelompok masyarakat terutama dari Pulau Jawa dan Bali. Selebihnya adalah penduduk pendatang lain yang pindah serta menetap di sini. Mereka membaur dalam kelompok masyarakat. Dari waktu ke waktu pertumbuhannya semakin meningkat sehingga menjadi bagian dari masyarakat Lampung Tengah seperti halnya penduduk pribumi. Penyebaran penduduk melalui program transmigrasi terhadap sejumlah masyarakat terutama dari luar pulau ke Kabupaten Lampung Tengah sebenarnya sudah ada sejak kolonial Belanda. Kepindahan penduduk pendatang dari luar daerah masih berlangsung setelah kemerdekaan. Bahkan perpindahan tersebut jumlahnya cukup banyak. Sebagian besar para transmigran yang datang ke Kabupaten Lampung Tengah, ditempatkan di beberapa district. Selama dalam tahun 1952 sampai dengan 1970 pada objek-objek transmigrasi daerah Lampung telah ditempatkan sebanyak 53.607 KK, dengan jumlah sebanyak 222.181 jiwa, tersebar pada 24 (dua puluh empat) objek dan terdiri dari 13 jenis/kategori transmigrasi. Untuk Kabupaten Lampung Tengah saja antara tahun itu terdiri dari 4 (empat) objek, dengan jatah penempatan sebanyak 6.189 KK atau sebanyak 26.538 jiwa. Areal penempatan atau daerah kerja yang dijadikan objek penempatan transmigrasi di daerah Lampung, umumnya berasal dari tanah-tanah marga, baik yang diserahkan langsung kepada Direktorat Transmigrasi oleh pemerintah daerah setempat melalui prosedur penyerahan maupun bekas-bekas daerah kolonisasi dulu, seperti objek-objek transmigrasi di daerah Lampung Tengah. Demi tercapainya integrasi dan assimilasi dengan penduduk setempat (pribumi) serta dalam rangka pemekaran daerah dari jumlah objek-objek transmigrasi tersebut, secara berangsur-angsur telah pula dilakukan penyerahannya kepada Pemda setempat. Selanjutnya objek-objek transmigrasi yang sudah diserahkan itu sepenuhnya menjadi wewenang dan tanggung jawab pemerintah daerah yang bersangkutan, baik secara tehnis administratif maupun pembinaan dan pengembangannya. Seiring penyebaran dan pemerataan penduduk di Kabupaten Lampung Tengah, laju pertumbuhannya kian bertambah dari tahun ke tahun. Setidaknya, setelah Lampung Tengah menjadi tujuan trasmigrasi, pertumbuhan penduduk semakin meningkat. Peningkatan pertumbuhan tersebut tentu saja disebabkan adanya para pendatang dalam jumlah cukup besar melalui perpindahan ini. Beragam suku, bahasa, agama dan adat istiadat telah pula mewarnai kehidupan penduduknya. Pada sejumlah tempat, akan ditemui perkampungan masyarakat yang masih sesuku dengan adat budayanya, percakapan sehari-hari yang mempergunakan bahasa daerah masing-masing, sarana ibadah menurut kepercayaannya dan lain-lain. Perpindahan sekelompok masyarakat ini memunculkan pembauran antara pribumi dan pendatang. Mereka membaur serta berinteraksi dalam kemajemukan yang sudah terjalin. Menurut Undang-undang (UU) No. 3 Tahun 1972, Transmigrasi adalah kepindahan atau perpindahan penduduk dengan sukarela dari suatu daerah ke daerah yang ditetapkan di dalam wilayah negara Republik Indonesia atas dasar alasan-alasan yang di pandang perlu oleh negara. Sedang transmigran, merupakan setiap warga negara Republik Indonesia yang secara sukarela dipindahkan atau dipindah menurut pengertian sebagaimana yang di pandang perlu oleh negara. Kampung paling dominan di Kabupaten Lampung Tengah dihuni oleh masyarakat suku Jawa. Agama yang dianut mayoritas Islam dan sebagian lagi agama Kristen Katolik, Kristen Protestan, Budha dan Hindu. Sebagian besar dari masyarakat ini tadinya bermula dari transmigran yang ditempatkan di Lampung Tengah waktu itu. Mereka berasal dari bagian tengah dan timur pulau Jawa. Didalam pergaulan hidup sehari-hari di kampung, mereka mempergunakan bahasa Jawa sebagai penutur. Menurut penuturannya, untuk mengucapkan bahasa Jawa, seseorang harus memperhatikan serta bisa membedakan keadaan orang yang diajak bicara maupun yang sedang dibicarakan. Perbedaan itu berdasarkan usia atau status sosialnya. Sebab pada prinsipnya, jika di tinjau dari krateria tingkatannya bahasa daerah ini terdiri dari bahasa Jawa Ngoko dan Krama. Berbahasa Jawa Ngoko di pakai bagi orang yang telah di kenal akrab, terhadap orang lebih muda usianya serta lebih rendah derajat atau status sosialnya. Lebih khusus lagi adalah bahasa yang di sebut Ngoko Lugu dan Ngoko Andap. Sedangkan bahasa Jawa Krama digunakan terhadap orang yang belum di kenal akrab tapi sebaya baik umur maupun derajat. Dapat juga di pakai bagi yang lebih tinggi umur serta status sosialnya. Ada pula bahasa Krama Inggil yang terdiri dari sekitar 300 kata. Digunakan untuk menyebutkan nama-nama anggota badan, benda milik, sifat, aktivitas dan emosi-emosi dari orang lebih tua maupun tinggi derajat sosialnya. Selain itu, ada juga penuturan yang di sebut bahasa Kedaton atau Bagongan, bahasa Krama Desa dan bahasa Kasar. Di lingkungan setempat, terutama dalam pergaulan hidup sehari-hari masyarakat Jawa di Kabupaten Lampung Tengah, bahasa yang digunakan lebih banyak menuturkan bahasa Jawa Kasar atau Jawa Pasaran. Penuturan ini lebih gampang di mengerti dan sering di pakai di dalam bercakap-cakap. Bahkan tidak sedikit suku lain mampu bercakap-cakap mempergunakan bahasa Jawa tersebut. Masyarakat suku Jawa di Lampung Tengah masih memegang teguh kultur daerah asal. Hal ini nampak jelas terlihat dari bahasa yang digunakan, sistem kekerabatan serta kebudayaan yang ada di lingkungan setempat. Berbagai kesenian tradisional Jawa seperti: Jaranan, Reog Ponorogo dan Campursari terlihat seringkali di tanggap, baik di saat perayaan pernikahan, hari besar nasional dan lain-lain. Selain suku Jawa, di Kabupaten Lampung Tengah terdapat masyarakat suku Sunda namun jumlahnya tak sebanyak suku Jawa. Mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Mereka juga awalnya adalah transmigran yang ditempatkan di beberapa kecamatan dalam wilayah Kabupaten Lampung Tengah. Dilingkungan setempat, mereka menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa percakapan. Pemakaiannya dikenal atas tiga tingkatan, yaitu: bahasa Sunda lemes, sedang dan kasar. Bahasa Sunda lemes sering digunakan untuk berhubungan dengan orang tua, orang yang dituakan ataupun yang dihormati dan disegani. Bahasa Sunda sedang dipakai antara orang setaraf, baik tingkat umur maupun status sosial. Sedangkan bahasa Sunda kasar dipergunakan oleh atasan terhadap bawahan, juga sering digunakan oleh menak terhadap cacah dan terhadap sesama mereka yang sesuku. Pola kebudayaan Sunda masih tampak dilingkungan masyarakat suku Sunda yang bermukim di Kabupaten Lampung Tengah. Kenyataan itu terlihat dari bahasa daerah yang dituturkan, sistem kekerabatan serta kebudayaan yang berkembang dilingkungan mereka. Beberapa kesenian tradisional baik berupa bebunyian maupun tari-tarian acapkali digelar saat ada prosesi penting. Masyarakat dominan lain yang bermukim di Lampung Tengah adalah penduduk suku Bali. Sebagian besar mendiami di beberapa kecamatan di wilayah timur dan sisanya berada di kecamatan lain di Lampung Tengah. Agama yang di anut mayoritas memeluk agama Hindu-Bali. Kampung-kampung Bali akan terasa bila saat berada di lingkungan setempat. Sama halnya dengan masyarakat suku Jawa dan Sunda, masyarakat suku Bali bermula dari transmigran yang ditempatkan di daerah ini. Penempatan itu terdiri dari beberapa tahapan. Sehari-harinya, penduduk setempat mempergunakan bahasa Bali sebagai penutur. Bahasa Bali masih termasuk keluarga bahasa-bahasa Indonesia. Dari perbendaharaan kata serta strukturnya, bahasa Bali tidak jauh berbeda dengan bahasa-bahasa Indonesia lainnya. Peninggalan-peninggalan prasasti dari zaman Bali-Hindu menunjukkan adanya suatu bahasa Bali kuno yang agak berbeda dengan bahasa Bali sekarang. Di samping mengandung banyak kata-kata Sansekerta, pada masa kemudiannya terpengaruh juga oleh bahasa Jawa kuno semasa Majapahit. Bahasa Bali mengenal pula apa yang dinamakan perbendaharaan kata-kata hormat meski tidak sebanyak di dalam bahasa Jawa. Penuturan bahasa Bali memiliki dialek khas. Memasuki kampung-kampung masyarakat suku Bali terlihat khasanah yang begitu menonjol. Kehidupan keagamaan dan seni ukir Bali sangat akrab dilingkungan penduduknya. Tempat melakukan ibadat agama Hindu-Bali disebut Pura. Dalam kehidupan keagamaan, mereka percaya akan adanya satu Tuhan, dalam konsep Trimurti, Yang Esa. Trimurti mempunyai tiga wujud atau manifestasi, yakni wujud Brahmana; yang menciptakan, wujud Wisnu; yang melindungi dan memelihara serta wujud Siwa; yang melebur segalanya. Di samping itu, orang Bali juga percaya pada dewa dan roh yang lebih rendah dari Trimurti serta yang mereka hormati dalam upacara bersaji. Kebudayaan Bali sebagai bagian dari budaya masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah, terlihat pada lingkungan kampung-kampung bersuku Bali yang bermukim di daerah ini. Adat istiadat serta kebudayaan lainnya berkembang dengan sendirinya seiring perputaran waktu. Berbagai kesenian baik seni rupa, seni pahat, seni musik dan tari tetap menjadi khasanah daerah. Sementara itu, di kabupaten ini ada pula kelompok masyarakat suku Bugis-Makasar. Sebagian besar dari masyarakat suku Bugis-Makasar bertempat tinggal di daerah pesisir, terutama di Kecamatan Bandar Surabaya. Walaupun jumlah penduduknya tidak banyak namun di Kabupaten Lampung Tengah mereka sudah dikenal sejak dulu sebagai suku pelaut. Di daerah pedalaman (sekitar pusat ibukota kabupaten) jarang sekali ditemui kelompok orang Bugis-Makasar. Bahasa penutur kelompok masyarakat ini mempergunakan bahasa Bugis-Makasar sebagai bahasa percakapan. Biasanya penggunaan bahasa daerah lebih sering di pakai di dalam lingkungan keluarga maupun sesama suku. Keberadaan mereka di Lampung Tengah pada awalnya atas inisiatif sendiri atau bukan atas dasar pentransmigrasian. Karenanya masyarakat Bugis-Makasar tidak banyak berdiam pada sebuah kampung tetapi hidup membaur dengan suku-suku lain di daerah belahan pesisir umumnya. Sekarang ini, di Kabupaten Lampung Tengah berdiam berbagai macam suku-suku bangsa dalam jumlah yang tidak sebanyak suku Jawa, Sunda, Bali maupun Bugis-Makasar. Suku-suku bangsa seperti Ogan, Palembang, Padang, Batak dan lainnya telah menjadi bagian dari penduduk kabupaten ini. Satu sama lain berinteraksi serta menyesuaikan diri dengan lingkungan masing-masing, tempat dimana mereka tinggal dan menetap. Jumlah penduduk Lampung Tengah berdasarkan Sensus penduduk tahun 1971 berjumlah 997.349 jiwa, Sensus penduduk tahun 1980 berjumlah 1.690.947 jiwa dan hasil Sensus tahun 1990 meningkat menjadi 1.901.630 jiwa dengan rata-rata laju pertumbuhan penduduk sebesar 5.97% pertahun. Periode tahun 1971-1980 menurun menjadi 1.18% pertahun pada periode tahun 1980-1990. Sedangkan rata-rata laju pertumbuhan penduduk untuk tahun 1980-1990 juga menurun menjadi sebesar 2,67% per tahun. Berdasarkan rata-rata pertumbuhan penduduk pada periode tahun 1971-1980, baik di Kabupaten Lampung Tengah maupun Provinsi Lampung pertumbuhannya masih cukup tinggi. Bahkan untuk Lampung Tengah mencapai 5,79%, lebih tinggi bila dibandingkan dengan Provinsi Lampung yang mencapai 5,77%. Kondisi ini terjadi karena pada periode tersebut Lampung merupakan daerah tujuan transmigrasi dan Lampung Tengah merupakan daerah yang cukup diminati oleh para transmigran, terutama dari pulau Jawa. Dengan adanya kebijaksanaan pemerintah Daerah Tingkat I (Dati I) berupa tertutupnya daerah Lampung sebagai daerah tujuan transmigarasi, di samping dicanangkannya gerakan Keluarga Berencana (KB), maka rata-rata pertumbuhan penduduk Lampung pada periode tahun 1980 sampai dengan 1990 dapat ditekan hingga menjadi 2,67% per tahun. Bahkan untuk Kabupaten Lampung Tengah jadi lebih kecil lagi menyusut sampai 1,18% pertahun. Sementara berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2000 angka sementara laju pertumbuhan penduduk di Lampung Tengah 0,85%. Berdasarkan sex ratio atau perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan (berdasarkan jenis kelamin) pada periode tahun 1971 sampai dengan 1980 di Kabupaten Lampung Tengah adalah sebesar 106. Pada periode tahun 1980 sampai dengan 1990 menurun menjadi 105. Sedangkan periode 1990 sampai dengan 2000, berdasarkan Sensus penduduk tahun 2000 tercatat sex ratio di Kabupaten Lampung Tengah tercatat sebesar 104,23. Jumlah penduduk di Kabupaten Lampung Tengah sejak pemekaran wilayah tahun 1999 tercatat sebesar 1.014.084 jiwa, terdiri dari 518.058 jiwa penduduk laki–laki dan 496.026 jiwa penduduk perempuan dengan sex ratio sebesar 104.44. Sedangkan tingkat pertumbuhan penduduk selama setahun waktu itu berkisar 1,16%. Jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) sebesar 61,79% dari total penduduk yang ada. Tingkat kepadatan mencapai 212 jiwa/km2 atau lebih meningkat sebesar 2 jiwa/km2 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Menurut hasil Sensus penduduk tahun 2000 yang dilaksanakan pada bulan Juni 2000 oleh BPS, tercatat jumlah penduduk di Kabupaten Lampung Tengah sebesar 1.046.182 jiwa, terdiri dari 533.931 laki-laki dan 512.251 perempuan. Pada tahun 2001 jumlah penduduk Kabupaten Lampung Tengah terjadi peningkatan yakni sebanyak 1.051.216 jiwa, terdiri dari 538.570 jiwa laki-laki dan 512.646 jiwa perempuan dengan sex ratio sebesar 105,06. Pada tahun 2002, penduduk Lampung Tengah berjumlah 1.071.597 jiwa, terdiri dari 554.330 jiwa laki-laki dan 517.266 jiwa perempuan dengan tingkat kepadatan 230 jiwa/km2. Tahun 2003, penduduk Lampung Tengah berjumlah 1.097.947 jiwa, terdiri dari 567.848 jiwa laki-laki dan 530.099 perempuan. Tahun 2004, penduduk Lampung Tengah berjumlah 1.109.884 jiwa, terdir dari 579.852 jiwa laki-laki dan 530.032 perempuan. Setiap tahun pertumbuhan penduduk mengalami peningkatan. Berikut adalah tabel jumlah penduduk di Kabupaten Lampung Tengah berdasarkan jenis kelamin dan jumlah penduduk per kecamatan di Kabupaten Lampung Tengah. Tabel2. Jumlah Penduduk Kabupaten Lampung Tengah Menurut Jenis Kelamin Tahun Laki-laki Perempuan Jumlah 2000 533.931 521.251 1.046.182 2001 538.573 512.646 1.051.216 2002 554.330 517.266 1.071.597 2003 567.848 530.099 1.097.947 2004 579.852 530.032 1.109.884 Tabel3. Jumlah Penduduk Kabupaten Lampung Tengah Berdasarkan Kecamatan No Kecamatan Jumlah 1. Padang Ratu 62.308 2. Selagai Lingga 31.324 3. Pubian 39.694 4. Anak Tuha 32.500 5. Kalirejo 59.516 6. Sendang Agung 33.824 7. Bangun Rejo 51.410 8. Gunung Sugih 58.179 9. Bekri 24.048 10. Bumi Ratu Nuban 25.846 11. Timurjo 46.689 12. Punggur 33.037 13. Kota Gajah 30.275 14. Seputih Raman 43.388 15. Terbanggi Besar 97.555 16. Seputih Agung 41.576 17. Way Pengubuan 31.664 18. Terusan Nunyai 44.560 19. Seputih Mataram 43.432 20. Bandar Mataram 63.403 21. Seputih Banyak 38.643 22. Way Seputih 15.389 23. Rumbia 47.390 24. Bumi Nabung 29.843 25. Seputih Surabaya 42.464 26. Bandar Surabaya 29.990 27. Anak Ratu Aji 17.977